CARA BERPIKIR BUDDHIS DALAM MENGHADAPI MASALAH HIDUP

May 4, 2011 by: dipankara

(Sebuah ringkasan) – YM.Bhante Uttamo Mahathera

Dalam pengertian Dhamma yang telah diajarkan oleh Sang Buddha sejak hampir 3000 tahun yang lalu, segala kejadian yang dialami maupun dihadapi oleh seseorang sebenarnya adalah NETRAL sifatnya. Oleh karena itu, segala bentuk permasalahan hidup yang dirasakan oleh setiap orang sesungguhnya hanya timbul karena pikiran orang itu sendiri yang tidak tepat dalam menyikapi kenyataan yang dihadapinya. Segala kenyataan hidup adalah netral, tidak memberikan kebahagiaan maupun menyebabkan penderitaan untuk seseorang. 

Ketika seseorang mampu berpikir positif dalam menghadapi suatu kenyataan atau peristiwa, ia akan merasakan kebahagiaan terhadap apapun kenyataan yang sedang ia alami. Sebaliknya, ketika seseorang berpikir negatif, ia akan merasakan penderitaan pada saat menghadapi suatu kenyataan. Dengan demikian telah jelas bahwa suatu kejadian yang dirasa membahagiakan seseorang mungkin saja menjadi sesuatu keadaan yang menyedihkan bagi orang lain. Semua perbedaan tersebut timbul karena sudut pandang yang tidak sama dalam menghadapi serta menyikapi suatu kenyataan hidup yang sebenarnya netral tersebut.

Terdapat sangat banyak contoh untuk menjelaskan perbedaan kebahagiaan maupun penderitaan yang timbul pada diri seseorang akibat sudut pandang yang tidak sama. Namun, agar lebih mudah dimengerti, dalam kesempatan ini hanya diberikan satu contoh saja. Contoh yang paling jelas dan sederhana misalnya tentang uang senilai Rp. 100.000,- Uang seratus ribu, untuk seseorang, katakanlah bernama A yang mempunyai banyak keinginan tentunya tidak bisa mencukupi untuk memenuhi harapannya. Sebaliknya, untuk seseorang, katakanlah bernama B yang mempunyai lebih sedikit keinginan, maka uang tersebut sudah terasa berlebihan. Dalam hal ini, permasalahan hidup atas kepemilikan uang senilai seratus ribu seolah hanya dialami oleh A dan tidak oleh B. Oleh karena itu, pembahasan penyelesaikan masalah yang akan disampaikan berikut ini nantinya hanya melibatkan A, bukan B.

Merenungkan kondisi yang disampaikan dalam contoh di atas, kiranya dapat dimengerti bahwa seseorang, dalam hal ini A, merasa memiliki masalah hidup karena sebenarnya ia tidak memiliki kemampuan mengubah kenyataan yang telah terjadi dan bersifat netral tersebut, dalam hal ini, nilai uang seratus ribu. Salah satu cara yang diberikan dalam Dhamma Ajaran Sang Buddha adalah upaya mengubah cara berpikir seseorang agar ia selalu berpikir positif dalam menghadapi segala sesuatu sehingga ia akan selalu berbahagia pada kondisi apapun yang ia alami. Dengan demikian, ia akan dapat mengambil tindakan yang tepat dan sesuai untuk menghadapi kenyataan tersebut. Semakin seseorang mampu menyesuaikan keinginan dengan kenyataan, semakin bahagia pula hidup yang ia rasakan.

Agar seseorang mampu berlatih mengubah pola pikir sehingga ia memiliki ketrampilan menyesuaikan diri antara harapan yang ada dengan kenyataan yang terjadi sehingga terwujudlah kebahagiaan, maka ia hendaknya :

Berusaha melatih kerelaan

Kerelaan (dana) adalah salah satu dari tiga pilar pokok Ajaran Sang Buddha di samping kemoralan (sila) dan konsentrasi (samadhi).

Pada tahap awal, kerelaan dilatih dengan menggunakan materi sebagai sarana. Misalnya, apabila ia memiliki makanan, ia dapat membagikan makanan tersebut kepada mereka yang membutuhkannya. Demikian pula apabila ia memiliki pakaian, sarana kesehatan dsb. Latihan kerelaan atau memberi kepada yang membutuhkan tersebut diharapkan menimbulkan kondisi batin untuk selalu mengharapkan fihak lain mendapat serta merasakan kebahagiaan.

Selama melaksanakan latihan kerelaan dengan materi, seseorang hendaknya juga melaksanakan latihan kerelaan dengan hal-hal yang bukan materi. Sebagian kecil contoh kerelaan akan hal yang bukan materi misalnya, perhatian, kasih sayang, nasehat, pemikiran positif dsb. Dengan melaksanakan latihan kerelaan akan hal yang bukan materi, seseorang semakin banyak dilatih untuk memperhatikan kesejahteraan dan kebahagiaan fihak lain selain dirinya sendiri.

Dengan memikirkan kesejahteraan serta kebahagiaan fihak lain, maka seseorang mulai belajar merelakan keakuan atau kebutuhan memuaskan diri. Oleh karena itu, apabila keinginan yang juga merupakan hasil keakuan tidak terpuaskan, maka ia akan lebih mudah menyesuaikan harapan dengan kenyataan. Ia telah terbiasa rela. Ia lebih mudah menerima kenyataan sebagaimana adanya. Bila tahap ini tercapai, maka kebahagiaan akan selalu dapat dirasakan terlepas dari kenyataan apapun juga yang sedang ia hadapi maupun temui dalam kehidupannya.

Dalam mengembangkan proses berlatih kerelaan yang merupakan salah satu cara berpikir Buddhis untuk menghadapi masalah hidup, maka berikut ini akan disampaikan tiga hal yang perlu dilakukan sehingga kebahagiaan dapat terwujud.

1. Rela mengurangi keinginan Ketika harapan ataupun keinginan tidak bisa menjadi kenyataan, maka seseorang hendaknya mulai meninjau dan mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan yang ia miliki selama ini. Ia hendaknya lebih mendahulukan kebutuhan daripada keinginan. Apabila kebutuhan sudah terpenuhi, barulah keinginan disusun berdasarkan tingkat kepentingannya untuk mendapatkan pemenuhan. Dengan mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, tentu sudah cukup banyak masalah kehidupan yang dapat diselesaikan. Sebagai contoh, A dengan uang senilai seratus ribu, mungkin hanya bisa memenuhi empat kebutuhan pokoknya terlebih dahulu, yaitu makanan, tempat tinggal, pakaian serta sarana kesehatan. Setelah semua atau sebagian dari kebutuhan pokok ini dapat terpenuhi, barulah ia memikirkan untuk memenuhi keinginannya, misalnya membeli handphone, memiliki sepeda motor dsb. Bila memang belum ada kesempatan untuk memenuhi keinginan, maka biarlah ia menunda terlebih dahulu keinginan yang ada dalam pikirannya. Inilah kerelaan mengurangi keinginan yang dapat mengurangi masalah hidup serta menumbuhkan kebahagiaan dengan apapun kenyataan yang dihadapi.

2. Rela meningkatkan kualitas kerja Memiliki uang senilai seratus ribu mungkin saja dirasa tidak cukup, namun itulah kenyataannya. Karena itu, dengan meningkatkan kualitas kerja atau lebih giat bekerja, mungkin saja dalam beberapa waktu kemudian nilai uang tersebut dapat bertambah dan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok serta sebagian keinginan yang dimiliki.

3. Rela menggunakan lebih banyak waktu untuk mencapai tujuan Bila A merasa uang senilai seratus ribu itu tidak bisa memenuhi kebutuhan apalagi keinginannya, maka ia hendaknya belajar bersahabat dengan waktu sehingga seiring dengan bertambahnya waktu dan kerja keras yang dilakukan, uang yang diperoleh menjadi lebih banyak, pada akhirnya kebutuhan maupun sebagian keinginannya dapat terpenuhi.

4. Gabungan dari ketiga bentuk kerelaan di atas Dengan menggabungkan ketiga bentuk kerelaan yaitu rela mengurangi keinginan, rela meningkatkan kualitas kerja dan rela bersabar, maka tentu lebih banyak lagi masalah hidup yang dapat terselesaikan sehingga kebahagiaan yang dimiliki lebih mudah dicapai.

Kiranya dengan penjelasan singkat di atas dapatlah menimbulkan pengertian untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga siapapun yang menggunakan pola pikir Buddhis seperti ini dapat lebih mudah menyelesaikan permasalahan hidup dengan hasil kebahagiaan sesuai harapan.

Semoga Anda semua selalu sehat, sukses dan berbahagia.

Semoga semua mahluk selalu hidup berbahagia.

Beberapa Masalah Kita Alami, Missionaris Buddhis, Hidup ini indah, maka nikmatilah, Sikap Berterus-terang, Penuh Ketergantungan,

PERHATIAN, DEMI KEBERLANGSUNGAN BLOG INI, HARAP ANDA MENGKLIK SALAH SATU IKLAN DIBAWAH INI, DENGAN BEGITU ANDA TELAH IKUT MEMBANTU BLOG INI, Anda tidak akan kehilangan halaman ini, karena iklan akan terbuka di TAB baru, Terima Kasih..

Leave a Reply

*