Kisah Seorang Bhikkhu yang Tidak Puas

Ada seorang pemuda anak seorang bendaharawan bertanya kepada seorang bhikkhu yang menghampiri rumahnya untuk berpindapatta, apakah yang harus dilakukan untuk membebaskan diri dari penderitaan dalam kehidupan ini.  Bhikkhu itu menyarankan untuk memisahkan hartanya menjadi tiga bagian. Satu bagian untuk mata pencahariannya, satu bagian untuk menyokong keluarga, dan satu bagian lagi untuk berdana.

Ia melakukan semua petunjuk itu, kemudian pemuda itu menanyakan lagi apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Disarankan lebih lanjut; pertama, berlindung kepada Tiratana (Buddha, Dhamma, Sangha) dan melaksanakan lima sila*; kedua, melaksanakan sepuluh sila; dan ketiga, meninggalkan kehidupan duniawi dan memasuki Pasamuan Sangha. Pemuda itu menyanggupi semua saran dan menjadi seorang bhikkhu.

Sebagai seorang bhikkhu, ia mendapat pelajaran Abhidhamma dari seorang guru dan Vinaya dari guru lainnya. Selama mendapat pelajaran, ia merasa bahwa Dhamma itu terlalu berat untuk dipelajari, dan peraturan Vinaya terlalu keras dan terlalu banyak, sehingga tidak banyak kebebasan, bahkan untuk menjulurkan tangan sekalipun.

Bhikkhu itu berpikir bahwa mungkin lebih baik untuk kembali pada kehidupan berumah tangga. Karena alasan ragu-ragu dan tidak puas, ia menjadi tidak bahagia dan menyia-nyiakan kewajibannya. Dia juga menjadi kurus dan kering.

Ketika Sang Buddha datang dan mengetahui masalahnya, Beliau berkata, “Jika saja kamu dapat mengawasi pikiranmu, tidak akan ada lagi hal-hal lain yang perlu diawasi; jadi jagalah pikiranmu sendiri.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

“Sududdasa? sunipu?a?
yatthak?manip?tina?
citta? rakkhetha medh?v?
citta? gutta? sukh?vaha?.”

Pikiran sangat sulit untuk dilihat, amat lembut dan halus,
pikiran bergerak sesuka hatinya.
Orang bijaksana selalu menjaga pikirannya,
pikiran yang terjaga membawa kebahagiaan.

Bhikkhu muda itu bersama dengan para bhikkhu yang lain mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

———
Notes:

* Pancasila :
1. melatih diri untuk tidak membunuh
2. melatih diri untuk tidak mengambil apa yang tidak diberikan / mencuri
3. melatih diri untuk tidak melakukan hubungan seksual yang tidak benar
4. melatih diri untuk tidak berkata tidak benar
5. melatih diri untuk tidak makan/minum yg melemahkan kesadaran

Intinya secara umum, manfaat kelima sila tersebut diatas adalah untuk mencegah kita berbuat karma buruk, menghindari merugikan orang/makhluk lain dan diri sendiri.

Sila pertama termasuk tidak menyebabkan/menyuruh orang lain membunuh, juga menyakiti/melukai makhluk lain.

Hubungan seksual yang tidak benar adalah melakukan hubungan seksual dengan orang yang masih dibawah perlindungan orang lain seperti ibunya, ayahnya, saudara laki-laki/perempuan, keluarganya, suami/isterinya, atau yg sudah bertunangan, dan yang dalam hukuman/penjara.
Jika masih tinggal bersama keluarga dan atau masih belum mandiri secara finansial, ini termasuk masih dalam perlindungan keluarganya, walaupun misalnya diatas 21 thn sudah dianggap dewasa. Di negara barat para remaja melakukan seks bebas, akibatnya banyak kehamilan remaja dan penyakit kelamin, ini merepotkan semua orang, dari pemerintah yang harus memberikan tunjangan sosial dll sampai kepada seluruh rakyat yang turut membayar pajak. Nampaknya di Indonesia seks bebas di kalangan remaja juga mulai meningkat, dan jika hamil lalu digugurkan. Menggugurkan kandungan termasuk pelanggaran sila pertama.

Berkata tidak benar, selain berbohong, fitnah dll, juga termasuk berkata kasar dan tidak sopan. Terutama sekali dengan pengaruh TV, film, dan bacaan, kita belajar kata-kata kasar, berpikir bahwa ini adalah bahasa gaul jaman sekarang lalu menerapkannya dalam hidup sehari-hari dan akhirnya karena terbiasa, menganggap itu bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan.

Untuk sila kelima, intinya adalah untuk tidak makan/minum hal-hal yang dapat melemahkan kesadaran dan merusak kesehatan. Termasuk narkoba. Merokok termasuk menimbulkan ketagihan dan merusak kesehatan diri sendiri dan orang-orang disekitar.
Nampaknya memang sila kelima ini paling tidak kelihatan konsekuensinya kalau tidak dilaksanakan, tetapi sekalinya terjerumus, kita bisa langsung melanggar lima sila sekaligus ! Misalnya mabuk, tidak jarang ada orang mabuk yang memaki, berbohong, menodong, lalu memperkosa dan membunuh korbannya sekaligus, nah, ibarat kata pepatah, sekali dayung 5 sila terlanggar semua !

Tidak ada hukum yang wajib / keharusan dalam agama Buddha. Sang Buddha hanya menunjukkan jalan dan memberi tahu kalau melakukan A, maka akibatnya adalah ini dan itu (dengan kemampuan batin beliau yang luar biasa, beliau tahu secara jelas cara kerja hukum karma). Jadi Beliau hanya membabarkan fakta yang ada.

Dengan melaksanakan Panca-sila, batin menjadi lebih tenang, menunjang latihan meditasi, menghindari kelahiran di alam rendah, meraih kelahiran di alam bahagia, dan membuka jalan menuju Nibbana.

Di level manapun kita berada dalam pelaksanaan sila, mari kita maju terus dan mencoba menyempurnakan sila kita! Sadhu sadhu sadhu.

Kisah Seorang Ibu yang Bisa Membaca Pikiran / Kisah Seorang Bhikkhu, Kisah Mahakassapa Thera, Kisah Meghiya Thera, Kisah Pertanyaan Ananda, Kisah Pertapa Paveyya,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>