Simbol Dalam Agama Buddha

September 21, 2012 by: dipankara

SIMBOL DALAM AGAMA BUDDHA

Oleh: UpasakaSasanasantoSengHansun


Di dalam Agama Buddha dikenal berbagai macam simbol. Bahkan, simbol-simbol yang terdapat di dalam suatu aliran Agama Buddha dapat berbeda dengan simbol-simbol yang terdapat pada aliran yang lainnya. Simbol-simbol ini melambangkan dan mengingatkan kita akan ajaran-ajaran Sang Buddha, guru agung junjungan kita. Selain sebagai perlambangan atas ajaran-ajaran Sang Buddha, simbol-simbol tersebut juga digunakan untuk merepresentasikan Sang Buddha sendiri. Hal ini dimaksudkan untuk mengingatkan kita dan sebagai wujud penghormatan kita, sebagai umat Buddha, kepada Sang Buddha yang telah mengajarkan Dhamma kepada kita.


Simbol-simbol di dalam Agama Buddha dapat dibedakan atas beberapa bagian menurut jenis, bentuk dan kegunaannya. Di antaranya seperti stupa dan candi, sarana puja, binatang (contoh: singa) dan tumbuhan (contoh: bunga teratai) dan lain sebagainya. Namun, dalam pembahasan kali ini, kita hanya akan membahas beberapa simbol umum yang dikenal di dalam Agama Buddha, meliputi pohon Bodhi, jejak kaki Sang Buddha, Roda Dhamma, swastika, bunga teratai, dan simbol sikap tangan (Mudra).


Pohon Bodhi (FicusReligiosa [Latin])



Pohon merupakan simbol umum yang lazim digunakan untuk menggambarkan alam. Selama berabad-abad, pepohonan telah menyediakan naungan dan perlindungan bagi manusia maupun binatang. Pohon Bodhi adalah pohon tempat naungan Sang Petapa Gautama ketika Beliau mencapai penerangan sempurna, menjadi Sang Buddha. Saat ini, pohon Bodhi dihormati sebagai pencerminan keagungan dan kebijaksanaan  Sang  Buddha. Pohon Bodhi ini juga dilambangkan sebagai pohon kehidupan. Menghormat pada pohon Bodhi merupakan salah satu cara untuk menunjukkan rasa penghormatan dan syukur kita, umat Buddha, atas kebijaksanaan dan ajaran yang telah dibabarkan oleh Sang Buddha.


Jejak Kaki Sang Buddha (Siripada atau Buddhapada)


Jejak kaki Sang Buddha ini sangat dihargai di seluruh Negara Buddhis. Secara garis besar, jejak kaki yang sangat skematis ini memperlihatkan seluruh jari kaki yang sama panjang dan terpahat di atas batu. Biasanya, jejak kaki ini memperlihatkan tanda-tanda, baik itu Dharmachakra atau Chakra di tengah telapak kaki, maupun menunjukkan tiga puluh dua (32), seratus delapan (108), atau seratus tiga puluh dua (132) dari tanda-tanda istimewa Sang Buddha. Jejak kaki Sang Buddha ini digunakan sebagai perlambangan atas diri Sang Buddha sebelum perlambangan Sang Buddha dalam bentuk patung manusia (Buddha Rupang) dibuat.


Roda Dhamma (Dharmachakra)


Ketika kita mengendarai sebuah mobil, roda-rodanya akan terus berputar hingga sampai di tempat tujuannya. Begitu pula dengan Roda Dhamma, semenjak Sang Buddha membabarkan kebenaran (Dhamma) untuk pertama kalinya, Dhamma akan terus-menerus menyebar keseluruh dunia hingga semua makhluk terbebas dari Dukkha. Roda Dhamma merupakan symbol dari perputaran ajaran Sang Buddha yang terus berlanjut demi kebahagiaan semua makhluk. Selain itu, roda Dhamma juga dilambangkan sebagai senjata yang dapat menghancurkan ketidak tahuan dan kegelapan batin dalam diri manusia. Simbol ini juga menggambarkan khotbah Sang Buddha  yang pertama kalinya di Taman RusaI sipatana, Sarnath, India.


Awalnya dalam tradisi India, Dharmachakra memiliki banyak jari-jari, berbantuk seperti matahari, yang melambangkan ajaran Sang Buddha yang bersinar terang yang menghalau kegelapan ketidaktahuan. Namun, bentuk yang lebih modern dari Dharmachakra memiliki empat (4) jari-jari, yang menyimbolkan empat Jina atau empat peristiwa dalam kehidupan Sang Buddha; atau dengan delapan (8) jari-jari yang menyimbolkan Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Atthangika Magga).


Swastika (Svastika)


Swastika (Svastika) berasal dari bahasa Sanskerta ‘su’ yang artinya menjadi; dan ‘ka’ sebagai akhiran. Jadi, swastika memiliki arti ‘keadaan menuju baik’. Swastika terdiri atas sebuah palang dengan panjang ke empat lengan yang sama. Ujung setiap lengannya mengarah kearah kanan. Terkadang beberapa titik ditambahkan pada masing-masing lengannya.


Swastika merupakan symbol kuno yang telah digunakan oleh berbagai budaya untuk melambangkan kehidupan, matahari, kekuasaan, kekuatan dan keberuntungan. Begitu pula dalam tradisi ajaran Agama Buddha, swastika melambangkan hal-hal yang baik dan positif. Selain itu, swastika juga merepresentasikan jejak kaki Sang Buddha (Buddhapada). Swastika kerap kali digunakan sebagai tanda atau icon dalam sebuah teks Buddhis. Di Republik Rakyat Cina dan di Jepang, swastika digambarkan sebagai symbol kemajemukan, kebahagiaan, kesejahteraan dan umur yang panjang. Saat ini, swastika masih digunakan sebagai tanda istimewa pada patung-patung Sang Buddha dan wihara-wihara. Dalam ajaran Agama Buddha aliran Tibet, swastika juga digunakan sebagai dasar dalam pola pakaian.


Bunga Teratai (Padma atau Lotus [Inggris])


                Bunga teratai merupakan simbol dari kemurnian dan kelahiran yang mulia, sebagai mana ia tidak tercemar oleh endapan-endapan lumpur di mana ia tumbuh. Mereka yang telah mengikuti ajaran Sang Buddha diharapkan dapat menjadi seperti teratai ini, tetap murni dalam kehidupan duniawi yang penuh dengan godaan.


Bunga teratai biasanya dibedakan menurut warna dan jenisnya sebagai berikut:


            1. Teratai Putih (Pundarika)


Melambangkan sifat Bodhi, keadaan di mana kesadaran dan perasaan telah tercerahkan atau mencapai kesempurnaan. Biasanya memiliki delapan (8) kelopak daun yang melambangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan.



            2. Teratai Merah (Kamala)


Melambangkan sifat alami (dasar) dari perasaan (mentalitas) manusia, yakni cinta kasih universal, welas asih, semangat dan kualitas hati lainnya.



            3. Teratai Biru (Utpala)


Merupakan simbol kemenangan atas bentuk-bentuk perasaan, memperoleh pengetahuan dan kebijaksanaan. Biasanya direpresentasikan sebagai teratai yang sedang mekar dan pusatnya tidak pernah terlihat.



            4. Teratai Merah Jambu (Padma)


Ini adalah teratai yang mulia, umumnya digunakan untuk merefleksikan makhluk tertinggi. Ini adalah teratai Sang Buddha.



            5. Teratai Ungu


Ini adalah teratai yang misterius, digunakan hanya oleh beberapa aliran dalam gambar-gambarnya.



Sikap Tangan (Mudra)


                Terdapat berbagai macam sikap tangan (Mudra) yang dikenal dalam Agama Buddha. Sikap tangan ini dapat ditemukan pada patung-patung Sang Buddha (Buddha Rupang). Masing-masing sikap tangan ini memiliki maknanya tersendiri sesuai dengan budaya dan zaman patung Buddha tersebut dibuat.


Beberapa di antaranya sikap tangan tersebut adalah sebagai berikut:


            1. Sikap Tangan yang Memutar Roda Dhamma (Dhammachakra Mudra)


Jempol dan jari telunjuk tangan kanan membentuk lingkaran melambangkan kebijaksanaan dan jalan. Tiga jari lainnya menyimbolkan ajaran Sang Buddha. Posisi tangan kiri melambangkan makhluk yang telah mengikuti jalan tengah.



            2. Sikap Meditasi (Dhyana Mudra)


Menggabungkan kedua jempol tangan dalam sikap ini melambangkan tekad untuk mencapai penerangan sempurna.



            3. Sikap Pencapaian Tertinggi (Varada Mudra)


Sikap tangan kanan melambangkan berkah dari pencapaian tertinggi. Sedangkan tangan kiri melambangkan meditasi. Bersama, mereka melambangkan kekuatan Sang Buddha untuk memberikan berkahnya dan pencapaian tertinggi bagi murid-muridnya ketika Beliau bermeditasi.



            4. Sikap Menghadap pada Bumi (Bhumisparsa Mudra)


Sikap tangan kanan mengarah pada Bumi untuk meminta Bumi sebagai saksi. Posisi tangan kiri melambangkan sikap meditasi. Bersama, mereka melambangkan kemenangan Sang Buddha atas segala rintangan ketika Beliau bermeditasi. Sikap ‘Menghadap Bumi’ atau ‘Meminta Bumi sebagai Saksi’ ini merefleksikan kemenangan Sang Petapa Gautama atas godaan Mara.



            5. Sikap Memutar Roda Dhamma ketika Bermeditasi (Vitarka Mudra)


Sikap tangan kanan melambangkan perputaran Roda Dhamma, sedangkan tangan kiri melambangkan meditasi. Keduanya melambangkan ajaran Dhamma ketika bermeditasi.



            6. Abhaya Mudra


Bermakna ‘Jangan Takut’, melambangkan jaminan, berkah dan perlindungan.



            7. Tarjani Mudra


Bermakna ‘Peringatan’. Jari telunjuk lurus menaklukkan lawan.



            8. Namaskara Mudra


Melambangkan keselamatan, harapan. Para Buddha (dalam rupa patung Buddha) tidak lagi menggunakan sikap ini karena para Buddha tidak lagi memiliki keinginan atas apapun.



            9. Jnana Mudra


Melambangkan ajaran. Tangan kanan berada di depan dada, jempol dan jari telunjuk membentuk lingkaran yang melambangkan roda Dhamma.



           10. Karana Mudra


Sikap di mana para setan tidak dapat mengganggu.



           11. Ksepana Mudra


Kedua tangan menyatu, melambangkan pencapaian pengetahuan atas ketidak-kekalan.



           12. Uttarabodhi Mudra


Kedua tangan saling menyatu di atas kepala dengan jari telunjuk bertemu di ujungnya dan jari-jari lainnya saling menyilang. Ini melambangkan pencapaian tertinggi.


Apakah Agama Buddha Itu Kuno?, Agama Buddha Sebagai Semangat Hidup, “ BAKAR KERTAS DAN TAKHAYUL ITU APAKAH ADA DALAM AJARAN BUDDHA? “, Sejarah Perkembangan Agama Budha di India dan Tiongkok(China) Agama Buddha di India, Alasan Bhikkhu Uttamo Memilih Agama Buddha, Bagian 3,

PERHATIAN, DEMI KEBERLANGSUNGAN BLOG INI, HARAP ANDA MENGKLIK SALAH SATU IKLAN DIBAWAH INI, DENGAN BEGITU ANDA TELAH IKUT MEMBANTU BLOG INI, Anda tidak akan kehilangan halaman ini, karena iklan akan terbuka di TAB baru, Terima Kasih..

Leave a Reply

*